KENAPA KUNCIPRO BAHAS IPSOS, KADENCE, NIELSEN, KANTAR PENIPUAN ATAU TIDAK?
Jujur saja, dari sekian banyak artikel hukum dan teknologi yang saya tulis di KunciPro.com, topik tentang Market Research (Riset Pasar) adalah yang paling personal bagi saya.
Setiap kali saya membuka kolom pencarian, yang muncul selalu ketakutan: "Nielsen penipuan kah?", "Petugas Kadence mau hipnotis ya?", "Kantar itu sales panci bukan?", Ipsos Aman Kah?
Inilah 3 alasan "Jujur Kacang Ijo" kenapa saya menulis artikel pembelaan (sekaligus edukasi) tersebut:
1. Solidaritas untuk "Orang Asing" Berkalung ID Card
Saya menulis ini bukan sebagai pengamat. Saya menulis ini sebagai mantan mitra lapangan (Interviewer).
Saya pernah ada di posisi mereka: Membawa tas ransel, memegang tablet/kuesioner, memakai ID Card resmi, dan berjalan kaki di tengah kampung orang di siang bolong.
Saya tahu rasanya jantung berdebar saat mengetuk pagar. Bukan takut sama anjing galak, tapi takut sama "penghakiman" warga.
2. Trauma Ditolak RT, RW, dan Dikira "Bang Titil"
Ini poin paling menyakitkan tapi perlu diceritakan. Di Indonesia, istilah "Riset Pasar" itu masih barang asing.
Tantangan kami bukan cuma data, tapi BIROKRASI & STIGMA.
- ❌ Birokrasi Berlapis: Jangan dikira gampang. Kadang sudah dapat izin Pak Kades, eh sampai di Pak RW diinterogasi lagi. Lolos RW, Pak RT nolak mentah-mentah. Padahal surat tugas kami resmi dari perusahaan global.
- ❌ Dikira Sales Marketing: Ini paling sering. Baru ngetuk pintu, penghuni rumah ngintip dari jendela terus teriak: "GAK BELI MAS! GAK ADA UANG!". Padahal kami GAK JUALAN. Kami justru mau kasih hadiah/souvenir kalau wawancaranya selesai.
- ❌ Tragedi "Bang Titil": Ini pengalaman paling absurd. Pernah saya lewat di sebuah gang kampung, ibu-ibu yang lagi kumpul langsung ngeliatin sinis (julid). Bisik-bisik tetangga mulai terdengar. Ternyata saya dikira "BANG TITIL" (Bank Keliling/Penagih Utang).
Makanya saya menulis artikel ini untuk EDUKASI WARGA. Saya ingin bilang: "Bapak/Ibu, kalau ada petugas Nielsen, Ipsos, Kadence atau dari PT lain... Tolong lihat dulu ID Card-nya. Kami bukan mau jualan panci, bukan mau nagih utang. Kami cuma pejuang nafkah yang butuh data."
3. Membedakan Petugas Asli vs Hantu Telegram
Tapi, saya juga paham kenapa warga takut. Karena memang banyak "Hantu" (Penipu) yang mencatut nama perusahaan ini.
Bedanya jelas: Petugas asli (seperti saya dulu) datang ke rumah, sopan, dan bawa ID Card. Penipu palsu itu "gentayangan" di Telegram/WA nawarin kerjaan Like YouTube dan minta deposit uang.
Artikel saya hadir untuk memberi garis batas tegas: Mana yang Surveyor Pejuang, Mana yang Penipu Pecundang.
4. Penjahat Hipnotis Warga & Sales Abal-Abal
- Cek LPG di dapur
- Cek Kesehatan
Kesimpulan:
Jadi, tulisan saya di KunciPro.com itu adalah jembatan. Jembatan agar Warga tidak ketakutan, dan agar Petugas Lapangan bisa bekerja dengan tenang tanpa dituduh Bang Titil lagi.
Ingin tahu cara membedakan ID Card Surveyor Asli dan Palsu? Baca panduan lengkapnya di markas besar:
