Sisi Lain Prilly & Sensodyne: Ketika "Open To Work" Kehilangan Sakralitasnya

Sisi Lain Prilly & Sensodyne: Ketika "Open To Work" Kehilangan Sakralitasnya


Ilustrasi satir topeng dari opentowork prilly di linkedin

Oleh: Tri Lukman Hakim, S.H.

​Baru saja saya menerbitkan analisis hukum dan sosiologis yang cukup berat di portal utama KunciPro.com mengenai fenomena Prilly Latuconsina di LinkedIn. Tapi di rumah digital pribadi saya ini, izinkan saya berbicara dari hati ke hati, melepaskan jubah analis sejenak.

​Jujur, saat pertama kali melihat lencana hijau #OpenToWork melingkar di foto profil Prilly, ada rasa kagum. "Wah, humble sekali," pikir saya.

​Tapi ketika "plot twist" marketing Sensodyne itu terungkap, rasa kagum itu berubah menjadi keresahan.

Kenapa Saya Resah?

​Sebagai seseorang yang sering berdiskusi dengan para pencari kerja, korban PHK, hingga mereka yang terlilit pinjol karena tidak punya penghasilan, saya tahu betul betapa "Sakral"-nya lencana hijau itu.

​Bagi jutaan rakyat Indonesia, #OpenToWork bukan hiasan. Itu adalah bendera putih. Itu adalah sinyal SOS. Itu adalah jeritan sunyi: "Tolong, saya butuh nafkah."

​Ketika simbol penderitaan itu dipinjam—atau lebih tepatnya dibajak—untuk keperluan gimmick jualan pasta gigi, rasanya ada garis etika yang dilanggar. Bukan pelanggaran hukum pidana, tapi pelanggaran rasa.

Dramaturgi yang Menyakitkan

​Sosiolog Erving Goffman menyebut ini Dramaturgi (Panggung Sandiwara). Prilly di panggung depan berakting sebagai pengangguran yang butuh "tantangan baru". Padahal di panggung belakang, kontrak Brand Ambassador bernilai fantastis sudah ditandatangani.

​Yang membuat hati miris adalah melihat ribuan komentar di postingan itu. Banyak HRD yang serius menawarkan kerja, banyak jobseeker yang merasa terwakili. Mereka tidak sadar sedang menjadi penonton gratisan di teater marketing kaum elit.

Sebuah Refleksi

​Tulisan ini bukan untuk membenci Prilly secara personal. Dia cerdas, dia sukses. Tapi ini kritik terhadap Sistem. Sistem marketing kita yang mulai kehilangan empati demi mengejar viralitas.

​Apakah kita sudah sampai di titik di mana "Kesulitan Mencari Kerja" menjadi bahan tertawaan atau materi promosi?

​Jika Anda ingin membaca bedah kasus ini secara ilmiah, lengkap dengan tinjauan Sosiologi Hukum dan teori "Manipulasi Publik", silakan baca analisis lengkap saya di KunciPro Research.

​👉 BACA DI SINI: [Prank Elit, Simpati Sulit: Bedah Sosiologis Prilly di Panggung Sandiwara LinkedIn]

​Biarlah tulisan ini menjadi pengingat bagi saya pribadi: Bahwa setinggi apapun kita terbang, jangan pernah bermain-main dengan simbol perjuangan orang kecil.